Jumat, 05 Oktober 2012

"Wanita, " Racun Dunia" atau " Perhiasan Dunia" ?


                                                             Oleh : Susan Rhs

Siapa yang tak kenal dengan pepatah “ Wanita adalah racun dunia” sebuah pepatah yang cukup masyhur dan seolah menyudutkan sorang wanita, akan tetapi pepatah ini juga tak dapat disangkal secara mutlak. Betapa tidak, sejarah sudah berbicara bahwa berapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah Swt dan karirnya hancur hanya disebabkan bujuk rayu wanita. Hanya dengan ucapan dan rayuan, seorang wanita mampu menjerumuskan kaum pria ke dalam lembah dosa yang hina. Berapa banyak persaudaraan di antara kaum mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. berapa banyak pula seorang anak laki-laki tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa penyebabnya adalah wanita. Dan mungkin kita juga masih ingat dengan kisah Nabi Adam yang dikeluarkan oleh Allah dari syurga akibat bujuk rayu Siti Hawa agar memakan buah quldi, dan pembunuhan pertama di dunia yang terjadi antara Habil dan Qabil hanya karena merebutkan wanita cantik Ikrimah, dan semua kejadian itu juga tak terlepas dari ikut campur tangan syetan.

Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya, karena titik kelemahan wanita terletak pada harta dan kemegahan dunia, sedangkan titik kelemahan pria adalah wanita. Dimana keduanya ini saling bersinergi jika disatukan, wanita menginginkan kemewahan dunia dan pria menginginkan ketenangan batinya yaitu wanita. Seperti yang saya sampaikan diatas, jika simbiosis mutualisme ini disatukan tanpa modal keimanan dan ketaqwaan, maka ikut campur syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik mereka agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda.

Wanita memang banyak berperan dalam kehidupan. Betapa tidak, segala urusan kalau sudah ditangani oleh yang namanya wanita, maka semua akan mudah. Bayangkan dengan tangan wanita, yang beserak bisa menjadi rapi, yang kotor bisa  menjadi bersih, yang keras bisa menjadi lembut, yang bengkok bisa menjadi lurus, bahkan yang bajingan sekalipun bisa disulap menjadi seperti malaikat oleh seorang makhluk yang bernama wanita. Begitupun sebaliknya, orang yang sehat bisa menjadi sakit, yang waras menjadi gila, dan orang yang taat kepada Allah bisa menjadi durhaka kepada Allah hanya karena wanita.

Maka tidak salah jika Nabi Saw sendiri mengatakan bahwa kebanyakan dari ahli neraka adalah kaum hawa. Dan hal inilah yang digambarkan oleh Nabi dalam haditsnya : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya). Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang penduduk syurga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Dan di hadits lain juga dijelaskan dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :“Sesungguhnya penduduk syurga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka  dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama. Maka wanita seperti inilah yang dinamakan “wanita  racun dunia”, bahkan bukan hanya sebagai racun dunia,  bisa jadi ia jauh dari wanginya syurga. Nau’zubillah.

Setiap manusia diilhami Allah dua potensi dalam dirinya yaitu potensi untuk berbuat kebaikan atau keburukan, sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an yang artinya : Demi jiwa serta seluruh penyempurnaanNya, Maka Dia Allah mengilhamkan jalan kejahatan dan ketaqwaan, maka sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan jiwa itu dan merugi orang-orang yang mengotorinya (Asy-Syam 7-10).  Dari ayat diatas dapat disimpulkan, bahwa wanita adalah salah satu makhluk Allah yang juga tidak terlepas dari kedua potensi tersebut. Jika wanita mengembangkan potensi keburukanya, maka ia bisa saja menjadi “ Racun Dunia”, tetapi bila wanita lebih cenderung mengembangkan potensi kebaikan melalui bimbinga’Nya, maka niscahaya ia juga bisa menjadi “Perhiasan Dunia” bahkan lebih dari itu, ia bisa menjadi calon bidadari syurga nantinya.  Dan seperti apakah wanita yang menjadi “Perhiasan Dunia” itu? Tentunya waniata shalehah seperti yang disabdakan Nabi Saw: “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim).

Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung pada ketaatannya terhadap aturan-aturan Allah dan Rasul, serta mampu menjalin hubungan emosional yang baik, baik itu secara vertikal (HablumminaAllah) maupun secara horizontal (Hablumminannas) dan semua aturan-aturan tersebut berlaku universal. Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Atau ambil ilmunya dari mereka, dan bahkan kita memiliki banyak sosok wanita shalihah yang bisa kita jadikan panutan. Contohnya istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah, ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak. Dan seperti  Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal.   Begitu juga, seorang anak yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Meskipun keimanan itu bukanlah sebuah keturunan, tetapi dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya itu juga sangat berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi. Jadi tarbiyah seorang ibu sangat mempengaruhi dalam menciptakan anak yang shaleh dan shaleha. Dan perlu kita ketahui,  banyak wanita bisa sukses, namun tidak semua bisa shalihah. Bahkan K.H Abdulah Gymnastiar berkata wanita yang sukses itu bukan wanita yang mampu mengukir segudang prestasi dalam karirnya, tetapi wanita yang sukses sesengguhnya ialah wanita yang mampu mencetak generasi hebat dan tangguh, baik dari segi duniawi maupun ukhrawi.

Jadi, peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga maupun negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius. Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.  Sebagai seorang wanita kita bisa memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah dan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita. Menjadi shalihah atau tidak adalah sebuah pilihan, dan ketahuilah wahai wanita, dalam hidup ini akan selalu ada pilihan, dan setiap pilihan memerlukan sebuah perjuangan dan setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Wallahu’alam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar